Memahami Biodiesel B35, yang Bakal Diterapkan Februari 2023

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan implementasi campuran Bahan Bakar Nabati ke dalam minyak jenis solar sebesar 35 persen, dengan sebutan Biosolar atau B35 pada 1 Februari 2023.

Keputusan tersebut sesuai dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal EBTKE Nomor: 10.E/EK.05/DJE/2022 yang ditetapkan pada 28 Desember 2022, dengan maksud meningkatkan penyediaan energi bersih secara berkelanjutan.

“Solar B35 itu menggabungkan biodiesel berbasis CPO sebanyak 35 persen dan solar dengan angka cetane number 48 sebanyak 65 persen,” ungkap Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Edi Wibowo, Jumat (6/1).

CPO (Crude Palm Oil) atau minyak kelapa sawit akan diolah menggunakan reaksi metanolisis. Mudahnya, reaksi antara minyak nabati dengan metanol dibantu katalis basa akan menghasilkan campuran ester metil asam lemak (FAME) dengan produk samping gliserol.

FAME akan melalui proses esterifikasi atau transesterifikasi dengan konversi enzimatis untuk menjadi biodiesel. “Untuk B35, tidak kita uji jalan karena kandungannya hanya meningkat tipis. Uji yang dilakukan hanyalah Filter Blocking Tendency (FBT),” jelasnya.

Ini adalah pengujian untuk melihat apakah campuran bahan bakar solar dengan biodiesel telah bersih dan tidak menimbulkan sumbatan pada filter fuel pump kendaraan.

Bila terjadi sumbatan, bahan bakar yang disuplai ke ruang bakar otomatis akan berkurang. Gejala tersendat-sendat hingga kendaraan tak bisa di-starter bisa terjadi.

“Dari hasil uji, tidak ada kendala yang signifikan dan tidak mengindikasikan adanya filter terblokir jadi tidak ada masalah kalau kita naikkan dari B30 ke B35,” imbuhnya.

Program B35 juga diklaim sudah dilakukan penyempurnaan dari sisi komposisi air sampai kestabilan oksidasinya. Sehingga, kualitasnya sudah jauh meningkat dari B30.

“Minyak solar kita di angka cetane 48 punya kandungan sulfur 2.500 ppm. Kalau dicampur 35 persen oleh Biodiesel yang sulfurnya 0 ppm pasti akan lebih rendah, kan? Jadi lebih bagus nantinya dibandingkan bahan bakar solar saat ini,” urainya.

Biodiesel B35 masih punya sulfur tinggi

Meski begitu, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, Ahmad Syafrudin menilai, biodiesel B35 masih punya kandungan sulfur terlalu tinggi.

“Secara teknis memang tidak masalah. Tetapi, kita kan sudah mengadopsi standar emisi Euro 4. Itu berarti kendaraan harus diisi dengan bahan bakar yang kandungan belerangnya 50 ppm saja. Biodiesel B35 ini terlalu tinggi sulfurnya,” katanya kepada kumparan.

Kendati kadarnya menurun, pria yang yang diakrab Puput mengatakan komposisi sulfur biodiesel B35 masih jauh lebih tinggi dari standar yang ditetapkan pemerintah untuk mesin diesel Euro 4.

Kandungan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kerusakan pada filter fuel pump, injektor hingga sistem catalytic converter yang berfungsi mengurangi gas buang karbon dari kendaraan.

“Bisa saja rusak dalam waktu kurang dari tiga bulan karena kan enggak sesuai. Filter fuel pump-nya tersumbat, injektornya juga tertutup kerak-kerak, catalytic converter-nya akan tersumbat juga karena kotoran yang dihasilkan lebih banyak,” ujarnya.

Maka dari itu, ia menyarankan pemerintah memperhatikan kualitas base oil bahan bakar sebelum dilakukan pencampuran agar kerusakan bisa diminimalisir dan target emisi tercapai.

“Maksimal, base oil-nya punya kandungan sulfur 70 ppm saja agar bisa mencapai 50 ppm tadi. Kalau pakai solar yang beredar sekarang, target emisi enggak akan tercapai dan akan merugikan banyak pihak,” pungkasnya.

You may also like...